Jumat, 27 Maret 2015

Belum Terjudulkan

Selamat pagi dunia, semoga dunia saat ini tengah tersenyum malu melihat mentari terbit di sebelah timur.
Entah darimana harus aku mulai, namun yang pasti bahwa, aku sekarang lupa akan kehidupanku yang berada di era modern. Aku terlelap dalam gelapnya zaman mitologi abad pertengahan. ketika tersadar ternyata aku berada di tengah manusia-manusia yang begitu pandai teknologi dan melek informasi.
Beginilah awal ceritnya.
Aku terlahir di akhir abad 20 tepatnya tahun 1992 lalu. Terdidik di tengah-tengah keluarga yang santun dan begitu sangat sederhana (kata bijak dari sebuah kemiskinan.he_e maaf ayah). Kelahiranku dismbut dengn begitu gembira dari berbagai pihak, wajar saja aku anak pertama dari sepasang insan yang menjalani kehidupan. Pendidikan kecilku penuh dengan nuansa keagamaan yang ketat dan disiplin.
Ayahku bernama Rasimin seorang pekerja buruh keturunan jawa yang terlahir di kota perbatasan Jabar Jateng, Cilacap. Seorang revormis di keluarganya. Aku katakan demikian karena memang dia selalu membantah apa yang telah orang tua sebelumnya katakan. Disaat orang tua kala itu sangat kentara dengan tahayul-tahayul dan sajen-sajen ratu kidul, dengan tegas dia menolak dan hendak mengajak semua keluarga untuk mejalani kehidupan yang lebih rasional, terlepas dari mitologi-mitologi. Secara singkat itulah ayahku, sang hero. Ha_a
Ibuku adalah orang yang penuh dengan kasih sayang yang begitu dalam terhadapku. iyalah,,,dia kan ibuku. ya namun bukan itu maksudku. Ibuku bernama Dede Suryati terlahir di kalangan orang-orang Jawa juga sama seperti ayahku. Hanya saja dia terlahir sebagai orang pribumi asli daerah Ciamis. Walaupun Ciamis merupaka basic dari sunda namun daerah tempat tinggal ibuku merupakan tempat perpindahan penduduk dari daerah Jawa Tengah dan sekitarnya. Ibuku adalah orang yang penuh dengan kasih sayang yang telah ia pelajari dari ibunya sejak kecil, alias nenekku. Senyumnya selalu menyiratkan kehangatan di dinginnya malam dan lentera di gelapnya malam.
Singkat cerita aku terlahir dan terdidik di tengah-tengah mereka. Meskipun ayahku seorang revormis di tengah-tengah keluarganya namun tetap saja kami hidup masih di tengah-tengah gelapnya masa mitos yang mengakar dan membudaya. Terlebih ketika terlahir di kalangan yang belum melek terhadap pendidikan, bagiku masih merupakan sebuah tragedi yang akan sedikit mengganggu kehidupanku kedepannya. Namun ayahku begitu bertekad untuk bisa mendidik anaknya ke jenjang pendidikan yang jauh lebih tinggi dari pada dirinya.
Aku selalu dicekoki dengan kalimat sekolah, sekolah dan sekolah, jangan seperti ayah dan ibu yang tak bisa sekolah karena biaya. Dia bicara seperti itupun sebenarnya tanpa ada biaya untuk memberikan pendidikan terhadap anaknya yang hendak ia sekolahkan itu, ya Aku. Akhirnya mulai sejak tingkat Tsanawiyyah hingga Mu”alimin ia selalu mencari peluang untuk dapat menyekolahkanku dengan tanpa biaya. Alhasil selama sekolah 6 tahun di Pesantren Persatuan Islam 85 Kota Banjar aku nyaris tanpa biaya sepenuhnya. hanya di akhir kepemimpinan ust Endang aku mendapat tagihan SPP sekitar 50ribu/bulan dan itu ayahku sanggupi. selama 3 tahun akhirnya hanya iuran sekitar 50ribu/bulan.
Terlair dari kalangan dunia santri tidak lantas membuatku terbangun di tengah-tengah manusia modern. Justru terkadang aku makin larut dalam dunia mitologi yang begitu kentara dengan sebuah dorongan dan landasan wahyu. (semoga tida salah kata) karena memang kebanyakan ayat demi ayat yang aku pelajari begitu kentara dengan tafsir tekstual. Gambaran-gambaran alam yang sesuai dengan alam akhirat dan sebagainya. Namun juga sedikit membuka cakrawala kehidupanku dimasa-masa setelahnya. Dan mulai dari sanalah dapat mengintik sebuah dunia yang begitu agung masanya.
Dunia pesantren membuka jendela kegelapan mitologi kehidupanku. Walaupun tidak dapat mendorongku untuk dapt keluar dari pintu peradaban lama. Dunia peantren membukakan jendela peradaban baru tatanan dunia saat ini namun justru melarangku untuk bersinggungan dan bersua dengan peradaban baru tersebut. sesat, penuh kebohongan, jauh dari syari’at, penuh dengan maksiat dan mudhorot, dan berbagai alasan lain.
“Bahasa Inggris itu bahasa kafir, bahasa munafik, masa teacher dibaca tice’r? jelas-jelas itu ‘teac-her’,” jelas seorang ustadz yang memang begitu besar simanya bagi para santri dan guru-guru yang lain. itu sebuah contoh penghalangan bagiku untuk dapat berkelana dari dunia mitologi menuju dunia peradaban modern yang kata orang penuh dengan kenikmatan dan kemaksyiatan dan Islam  sebagai dinullah tidak di perbolehkan untuk dapat menyetuhnya.
Do’a seorang ibu dan ayah selalu menjadi senjata bagi seorang anak untuk menggapai cita-cita. saat kelulusan tingkat SMA/Mu’alimin di umumkan dan aku dinyatakan lulus dari pesatren akhirnya aku tidak memiliki plan sedikitpun untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi ataupun untuk bekerja di sebuah pabrik atau yang lainnya. hanya diam di rumah membantu mengurus adik dan sebagainya layaknya anak yang baru pulang dari sekolah dasar.
Disaat teman dan sahabat yang lain sibuk dengan urusan pendaftaran kuliah dan pekerjaannya masing-masing, aku masih terdiam dan merenung di rumah. Kemana aku harus melanjutkan kehidupanku ini?. Ayah dan ibu ternyata bukan hanya do’a dan do’a, mereka pun ternyata mengusahakan kelanjutan ceritaku di dunia pendidikan. Hingga akhirnya aku di tawari sebuah beasiswa di sebuah perguruan tinggi negri di kota Kembang…
Aku selalu ingat ungkapan ayahku ketika tengah menguatkan dan meyakinkanku untuk tetap bisa belajar ke jenjang yang jauh lebih tinggi dari yang ia dapatkan selama hidupnya “innalloha yarzuqhu min ghoiri laa yahtasib”. 
to be continue….
nantikan kisah selanjutnya di edisi berikutnya teman,,, semoga menjadi lahan amal dan menjadi nilai moral tersendiri bagi teman-teman yang membacanya.
follow kami di @el_fachris
atau kunjungi di facebook Yusuf Bachtiar (el_fachri)
terimakasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar