Matematika adalah
kunci ilmu pengetahuan. Semua kehidupan di dunia sangat terkait dengan
hitungan, aangka, ruang, waktu dan lainnya dan semua itu memiliki keterkaitan
yang sangat signifikan dengan matematika. Setiap durasi yang digunakan oleh seorang
penjahit untuk membuat satu baju memerluan durasi bermenit-menit atau bahkan
berjam-jam dan itu merupakan sebuah tatanan angka yang disebut dengan waktu.
Durasi ketika kita harus belajar sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi
yaitu 8 semester, misal yang lain. Atau bahkan ketika kita harus mengetahui
berapa jumlah laba yang dihasilkan dari satu baju yang kita buat (sebagai
seorang penjahit) kita harus menghitungnya. Betapa pentingnya sebuah matematika
dalam hidup ini.
Matematika
memperoleh perhatian yang istimewa dari para ilmuan dan sarjana muslim klasik.
Hampir semua sarjana muslim dari berbagai jenis disiplin ilmu memiliki
penguasaan dan apresiasi terhadap
matematika. Para filsuf dan teolog seperti Al-Kindi, al-Farabi, ibn Sina, ibn
Kholdun dan yang lainnya memiliki karya tentang matematika. Terlebih lagi bagi
para astronom dan fisikawan seperti al-Battani, al-Farghani, al-Biruni,
al-Haitsam, al-Thusi dan lain sebagainya karena matematika merupakan sebuah
ilmu yang menjadi alat untuk kedua bidang ilmu tersebut.
Salah seorang
tokoh ternama yang menjadi khalifah ke-empat setelah Kholifah Utsman yaitu
Sayyidina ‘Ali bin abi Thalib dikenal sebagai sosok sahabat nabi yang cerdas,
terpercaya, alim erwawasan luas dan visioner, wara’, zuhud, pemberani memiliki
gelar taj al-arifin, puncaknya orang-ornag arif merupaka sumber inspirasi ilmu
pengetahuan.
Sahabat nabi yang
memiliki kehidupan sederhana namun dalam bidang matematika dia sangat mumpuni.
Riwayat tentang kemahirannya dalam bidang matematika dinukil dari berbagai
kisah tanya jawab. Karena kealimannya dan ketersohorannya di kalangan sahabat
nabi juga tabiin, akhirnya dia menjadi sumber dari berbagai pertanyaan bagi
mereka, dan bahkan orang-orang yang dengki sekalipun kerap bertanya kepadanya untuk
sekedar mengetes yang ternyata dapat dijawab dengan sempurna oleh imam ‘Ali bin
abi Thalib. Dan bahkan banyak riwayat yang menyebutkan bahwa banyak diantara
orang yahudi masuk islam setelah bertanya kepada beliau, termasuk disini soal
matematika.
Imam ‘Ali dan
Aritmatika, KPK Bilangan Satu Sampai Sepuluh Dan Perhitungan Warisan
Diriwayatkan
seorang pendeta pernah berwasiat kepada muridnya sebelum ia meninggal dunia,
agar ia mencari seorang yang diberi gelar “pintunya ilmu” (sesuai dengan hadits
nabi bahwa: ana madinah al-‘ilmi wa ‘Ali babuha, Aku adalah kota ilmu
dan ‘Ali adalah pintunya). Apabila bertemu, murid tersebut harus menanyakan
suatu oertanyaan yang belum terjawab. Perntanyaan apakah gerangan yang menjadi
sebuah wasiat seorang guru kepada muridnya?
Pendeta itu
berkata kepada muridnya, “Tanyakanlah wahai muridku, bilangan mana yang habis
dibagi satu sampai sepuluh. Apabila dia dapat menjawab maka benarlah dia yang
mendapat gelar pintunya ilmu. Dan aku sarankan engkau untuk
mengikutinya. Dan apabia dia tidak bisa menjawab maka tinggalkanlah dia dan
teruslah mncarinya”.
Sang murid
akhirnya ditinggal mati sang guru dan memutuskan untuk mengembara hendak
mencari orang yang telah gurunya katakan sesaat sebelum ia meninggal. Sampai
akhirnya ia mendengar Imam ‘Ali yang mendapat gelar seperti yang telah gurunya
sebutkan. Dan mereka bertemu dan seorang murid pendeta tersebut menanyakan
pertanyaan yang belum dapat dijawab oleh sang pendeta. Imam ‘Ali bin Abi Thalib
menjawab dengan begitu mudahnya apa yang di tanyakan seorang murid pendeta
tersebut. Beliau berkata pada murid pendeta yahudi tersebut “kaikanlah jumlah
harimu dalam sebulan dengan jumlah bulanmu dalam satu tahun, dan dengan jumlah
harimu dalam seminggu”.
Lalu orang yahudi
itu pun menghitungnya. Jumlah hari dalam sebulan adalah 30. Jumlah bulan dalam
setahun adalah 12. Dan jumlah hari dalam seminggu adalah 7. Jika ketiga
bilangan tersbut dikalikan yaitu 30 kali 12 kali 7, maka di peroleh hasil
bilangan 2520. Dan ternyata bilangan tersbut merupakan bilangan persekutuan
terkecil dari satu sampai sepuluh, dimana jika angka tersebut di bagi oleh
angka satu sampai sepuluh maka angka tersebut habis dan tidak tersisa. Seroang
yahudi itu terkejut dan kahirnya memeluk islam sampai akhir hayatnya.[1]
Bilangan yang
ditanyakan keada imam ‘Ali tersebut merupakan bilangan dalam istilah aritmetika
sekarang adalah KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil, bukan kimisi pemberlakuan
korupsi). Bilangan KPK adalah bilangan kelipatan terkecil dari persekutuan dua,
tiga atau lebih sebuah bilangan. KPK dari 3 dan 4 misalnya adalah 12. Dimana
bilangan 12 akan habis bila di bagi 3 dan 4, tidak tersisa. Bilangan KPK sangat
berguna dalam oprasi penjumlahan atau pengurangan pecahan, yiatu metode
penyamaan penyebut. Sebuah pembagian waris akan sangat memerlukan KPK dalam
penghitungnnya. Misalnya, seorang ayah meningalkan sjumlah kekayaan kepada
istri, dua anak laki-laki dan ketiga anak perempuannya. Maka setelah kekayaan
sang ayah dikurangi ⅙ untuk bagian seorang istri, maka sisanya dibagikan kepad
kelima anaknya itu, tetapi dengan peraturan bahwa anak laki-laki mendapatkan
bagian dua kali lipat dari anak perempuan. Jika seorang anak memperoleh x maka
laki-laki memperoleh 2x. Kelanjutannya, untuk dapat menghitung besar x itum
diperlukan bilangan penyebut yang sama dari jumlah total anak laki-laki dan
perempuan sehingga hasil dari penjumlahannya sama dengan jumlah riil kekayaan
sang ayah. Itulah salah satu kegunaan matematika dalam hal ini KPK.[2]
Hasil perhitungan
bilangan KPK dari satu hingga sepuluh tersebut tidak menjadi perhatian bagi
kita tentunya. Bahkan seorang murid tingkat menengah (SMP) sekalipun sudah
barang tentu dapat menghitung bilangan persekutuan sepuluh angka tersebut,
meskipun dalam sebuah contoh ataupun latihan matematika biasanya hanya mencari
KPK dua atau tiga bilangan saja. Karena metode pencarian bilangan KPK tersebut
pda prinsipnya sama saja, meskipun untuk sepuluh bilangan.
Justru
yangmenarik perhatian adalah metode yang digunakan oleh Imam ‘Ali dalam
memecahkan persoalan tersebut. Beliau tidak menggunakan metode konvensional,
yaitu mencoba satu persatu atau dengan rumursan faktorial bilangan seperti yang
kita temui dalam aritmetika. Seroang profesor pun kiranya akan menggunakan
metode konvensional, yaitu pemfaktoran setiap bilangan. Namun Imam ‘Ali justru
menjawabnya dengan sangat mudah dengan menggunakan bahasa sehari-hari yang
biasa masyarakat pakai dalam percakapan sehari-hari dan sangat mudah untuk di
fahami. Semua orang mengetahui jumlah hari dalam seminggu, jumlah bulan dalam
setahun dan jumlah hari dalam sebulan.
Persoalaan
matematika yang cenderung teknis itu dapat diselesaikan oleh Imam ‘Ali dengan
begitu mudah, yaitu dengan menggunakan konsep ruang dan waktu yang digunakan
bahasa sehari-hari. Bagi Imam ‘Ali, rumursan matematika merupakan dunia yang
tak terpisahkan dari dunia nyata bahwa bilangan-bilangan tersbut merupakan
sebuah korelasi dari seluruh fenomena-fenomena kosmologis. Atau bahkan
sebaliknya bahwa seluruh fenomena alam raya yang terbentang luas ini mempunyai
rumusan-rumusan matematis yang serasi sehingga alam semesta merupakan sebuah
padanan dan rumus matematika yang simetris.
Seluruh alam ini
baik yang abstrak (seperti matematika) ataupun yang bersifat fisik merupakan
sebuah manifestasi dari keesaan Tuhan. Maksudnya, karena semua jenis atau
seluruh peringkat alam itu berasal dari Yang Satu, tentu antara alam itu saling
berhubungan dan terintegrasi. Dan tentu saja penguasaan terhadap
tingkat-tingkat alam itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang seakan-akian
telah mengetahui “rahasia ini alam semesta ini”, memiliki “kunci-kunci berbagai
lemari ilmu pengetahuan”, sebagaimana yang telah ditunjukan oleh Imam ‘Ali.
Masih dengan
sosok agung Imam ‘Ali berkaitan dengan matematika. Dikisahkan bahwa ada tiga
orang menemui imam ‘Ali dengan membawa persoalan waris yang rumit. Mereka
memiliki 17 ekor unta yang hendak dibagikan untuk tiga orang dengan pembagian
masing-masing ½, ⅓, dan ⅟9 tanpa menyembelih atau menguangkan unta-unta
tersebut. Jika menggunakan perhitungan langsung, tentu saja syarat yang telah
ditetapkan tidak akan pernah terpenuhi karena ketiga orang tersbut akan
mendapatkan bagian masing-masing 8 ½, 5 ⅔
dan 1
ekor unta. Seketika, Imam ‘Ali
menyarankan untuk menambahkan seekor unta miliknya. Dan karena sekarang jumlah
unta mereka adalah 18, maka ketiga orang tersebut mendapatkan angka bulat,
yaitu 9, 6 dan 2. Total unta yang di bagikan adalah 17 ekor dan imam ‘Ali
mengambil kembali unta miliknya. Cara yang sangat kreatif dan taktis ini di
perkenalkan oleh Imam ‘Ali untuk memcahkan persoalan waris itu dengan cepat dan
mudah.
Peristiwa
tersebut menunjukan betapa wali Alloh yang wara’ dan zuhud itu
adalah seorang ahli matematika ynag amat ulung sehingga cepat tanggap dalam
menyelesaikan persoalan sehar-hari dengan metode yang kreatif dan konvensional.
Al-Khawarizmi
Bapak Al-Jabar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar